Selasa, 06 Maret 2012

Siapakah A???

A adalah seorang anak nan tinggal di rahim yang hampir berpuasa selama 1 bulan dari masa tinggal 9 bulan 10 hari. Dikatakan hampir karena bukan masanya sang ibu untuk berpuasa melainkan karena kondisi sang ibu yang sulit untuk memberikan gizi yang cukup untuk si A yang mengisi rahimnya. Kondisi jasmaninya yang sedang tidak bisa menerima jenis-jenis makanan utama, ditambah lagi kondisi keuangan yang bisa dibilang kurang dari cukup. Sehari-harinya sang ibu hanya memasak 1/2 kg beras dengan lauk seadanya. Yahh begitulah awal mula kehidupan si A (dalam rahim sang ibu) yang semenjak awal dilatih untuk terbiasa dengan kekurangan, ketiadaan sehingga diharapkan akan terlahir sebagai anak yang kuat menghadapi kehidupan dunia yang lebih besar daripada rahim ibunya.

Alhamdulillah, A dapat terlahir normal pada tanggal 21 Jumadil Awwal tahun 1410 H karena kasih sayang Allah. Beberapa kali ibu membawanya ke posyandu, tidak satupun yang mengira bahwa A adalah anak dari ibu yang membawanya. Ibu-ibu lain berpikir bahwa A dengan kulit putih dan mata sipitnya adalah anak orang Cina yang berbeda jauh dengan ibu yang membawanya. Bagi penulis wajar saja, karena bayi A belum bisa membuka matanya lebar-lebar dan ia dijaga oleh ibu yang merawatnya secara terampil.

Kehidupan A di dunia sebagai balita telah mengajarkannya akan keributan. Keributan ayah dan ibu yang tidak sama visi dalam membangun keluarga. Keributan yang kelak mungkin akan melatih kekuatan diamnya atau mempersenjatai dirinya dengan keDiaman sehingga ia dapat mencegah dirinya sendiri dari potensi menambah keributan yang telah dibuat pendahulu keributan.

4 tahun pertama, ia tinggal di rumah nenek (ibu dari ibu) dan sering ditinggal ayah yang jarang memberi nafkah. Masa-masa 4 tahun pertama kehidupannya di dunia, ia jalani sebagaimana perilaku anak-anak sebayanya. Latar belakang keluarga tak membuatnya menjadi anak yang minder dan kurang pergaulan melainkan sebagai anak yang selalu ceria, punya banyak teman, dan suka kesederhanaan. Suatu hari, ia pernah ditanya oleh uwa yang ikut mengasuhnya "Nak, mau ngga jadi orang KAYA". "Ngga mau uwa, orang kaya itu sombong, kadang malah semaunya", jawab si A kecil dengan polos. "Tapi kalo kaya kamu kan bisa beli mainan banyak, beli makanan yang banyak", sanggah Uwa. "Oh, iya ya. Tapi A seneng koq kayak gini, masih tetep bisa main-main dan seneng sama temen-temen A. Kita main lari-larian, masak-masakan pake daun-daun trus wadahnya dari kerang-kerangan. Asikk deh pokoknya. Uwa mw ikut A main ngga?", komentar A dengan kelucuannya. "Baguslah kalo A bisa seneng", kata uwa tanpa menjawab pertanyaan A.

Hari-hari berlalu dan dijalani A tanpa menyusahkan ibu yang ditinggal ayah untuk mencari kerja di negeri orang. Bagaimanapun sulitnya ibu tanpa ayah, si A tetap saja masih diberi uang jajan oleh orang-orang yang sayang padanya (sebenarnya Allah yg kirim orang-orang itu).

Suatu ketika, A ingin membeli makanan sejenis kerang rebus yang diberi bumbu. A sangat menyukai makanan tersebut sehingga ia tidak dapat menahan keinginannya walaupun hari mendung akan menampakkan hujan. Akhirnya, ibu memberi izin A untuk pergi membeli jajanan dengan ditemani kakak sepupunya. Ketika setengah perjalanan pulang, hujan turun dengan derasnya sehingga memaksa A dan kakak sepupunya berlari agar cepat sampai di rumah. Tetapi, tidak jauh sebelum sampai di rumah, si A tiba-tiba tersandung batu, terpeleset dan kakinya menabrak batu besar yang didekatnya. Alhasil, luka cukup besar menghiasi kaki A yang mungil [duhhh, kasihan (T_T)]. A kecil menjerit kesakitan. Sang kakak menggendongnya pulang ke rumah. Di rumah, ibu langsung membasuh luka di kaki A.

Nenek berniat membawa A ke puskesmas terdekat. Si A tidak mau tapi karena dipaksa nenek, akhirnya A menurut saja. Jarak puskesmas dan rumah nenek cukup dekat hanya perlu waktu 10 menit. Setengah perjalanan dilalui, si A berpikir nanti sesampainya di ruang dokter, kakinya yang luka akan disuntik pake jarum. Akhirnya, ia protes kepada neneknya ngga mau ke puskesmas karena takut disuntik. Bujuk-rayu nenek dilancarkan agar si A mau ke dokter. A yang ketakutan dengan suntikan yang akan diterimanya menurut pikirannya akhirnya berlari pulang ke rumah. Nenek pun menyusulnya kembali ke rumah. Karena tak mau diobati dengan bantuan dokter, maka luka itupun membekas walaupun telah diobati oleh ibunya setiap hari. (Ga kebayang sakit yang A kecil rasakan, dan kasih sayang ibu A yang mengobati luka A dengan hati-hati)

----------------------------------------------To Be Continue----------------------------------------------